Bandung – Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan meminta jajaran Pemprov berusaha keras stabilkan harga-harga kebutuhan pokok yang cenderung naik pada waktu-waktu tertentu. Untuk keperluan stabilisasi harga, pemerintah Jawa Barat menyiapkan anggaran Rp 40 miliar untuk Operasi Pasar Murah (OPM) tahun ini.
”OPM difokuskan untuk 3 komoditas yaitu beras, gula kristal putih atau gula pasir, serta minyak goreng,” kata politisi PKS itu saat dihubungi di Bandung, Jumat (7/1).
Menurutnya, kebijakan OPM akan dilakukan jika di antara 3 komoditas itu mengalami kenaikan harga sampai 20 persen dari harga normalnya. Anggaran yang berasal dari APBD Jawa Barat itu disediakan untuk menutupi selisih harga itu, agar komoditas itu bisa dijual di harga normal.
Kebijakan tersebut, lanjut Heryawan didasarkan pada hasil evaluasi soal inflasi di Jawa Barat, dimana produk pangan merupakan penyumbang terbesar inflasi sepanjang 2010 lalu. ”terutama melonjaknya beras,” kata Heryawan.
Pada 2010, inflasi year on year di Jawa Barat tercatat menembus 6,62 persen. Angka itu, menurutnya, lebih rendah dari angka inflasi nasional. Inflasi di Jawa Barat juga lebih rendah dibandingkan jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi lebih besar dibandingkan dengan inflasi yang tercatat di Banten dan DKI Jakarta.
Tahun ini Jawa Barat menargetkan angka inflasinya bisa ditekan di angka antara 4 persen sampai 6 persen. Sejumlah strategi disiapkan untuk menekan laju inflasi itu. Strategi yang disiapkan, di antaranya, perbaikan irigasi untuk memperluas areal lahan tanam padi, dan percepatan penyaluran beras miskin.
Terkait produksi padi, dibawah kepemimpinan Heryawan, produksi padi Jabar terus meningkat. Tahun produksi gabah kering giling (GKG) Jabar mencapai 11,32 juta ton atau naik 11,98 persen dari produksi tahun lalu yang hanya 10,08 juta ton GKG. Secara keseluruhan, produksi beras jabar berkontribusi sebesar 18,9 persen dari produksi beras nasional.
Sumber : pk-sejahtera.org
Menurutnya, kebijakan OPM akan dilakukan jika di antara 3 komoditas itu mengalami kenaikan harga sampai 20 persen dari harga normalnya. Anggaran yang berasal dari APBD Jawa Barat itu disediakan untuk menutupi selisih harga itu, agar komoditas itu bisa dijual di harga normal.
Kebijakan tersebut, lanjut Heryawan didasarkan pada hasil evaluasi soal inflasi di Jawa Barat, dimana produk pangan merupakan penyumbang terbesar inflasi sepanjang 2010 lalu. ”terutama melonjaknya beras,” kata Heryawan.
Pada 2010, inflasi year on year di Jawa Barat tercatat menembus 6,62 persen. Angka itu, menurutnya, lebih rendah dari angka inflasi nasional. Inflasi di Jawa Barat juga lebih rendah dibandingkan jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi lebih besar dibandingkan dengan inflasi yang tercatat di Banten dan DKI Jakarta.
Tahun ini Jawa Barat menargetkan angka inflasinya bisa ditekan di angka antara 4 persen sampai 6 persen. Sejumlah strategi disiapkan untuk menekan laju inflasi itu. Strategi yang disiapkan, di antaranya, perbaikan irigasi untuk memperluas areal lahan tanam padi, dan percepatan penyaluran beras miskin.
Terkait produksi padi, dibawah kepemimpinan Heryawan, produksi padi Jabar terus meningkat. Tahun produksi gabah kering giling (GKG) Jabar mencapai 11,32 juta ton atau naik 11,98 persen dari produksi tahun lalu yang hanya 10,08 juta ton GKG. Secara keseluruhan, produksi beras jabar berkontribusi sebesar 18,9 persen dari produksi beras nasional.
Sumber : pk-sejahtera.org


14.10
PKS Semper Barat

0 komentar:
Posting Komentar