BEKERJA UNTUK INDONESIA - UNTUK INDONESIA ADIL SEJAHTERA - HARAPAN ITU MASIH ADA

Selasa, 25 Januari 2011

Da'wah Partai, Bid'ahkah?

Islamedia.com - Sebagian kalangan telah berlebihan dalam memberikan label bid’ah dan haram. Bagi mereka, kebenaran hanya satu yaitu ada pada mereka, tinggal pilih; ikut mereka atau ikut yang yang lain (baca: ahli bid’ah). Itu semua hanya karena perbedaan dalam memahami sesuatu yang bukan prinsip agama (ushul), namun disikapi seperti lakum diinukum wa liyadin. Seakan tidak ada ruang untuk berbeda pendapat. Mereka melarang-larang manusia taqlid kepada Al Banna, Al Qaradhawy, Sayyid Quthb, Al Ghazaly, namun sayangnya, tanpa disadari mereka justru mengajak manusia selalu meng-aminkan dan ikut buta terhadap apa yang mereka pahami.

Senin, 24 Januari 2011

Mencari-cari Alasan

Menjelang mukhoyyam;

'maaf, saya ada agenda keluarga keluar kota.'
'Apa tidak bisa ditunda?'
'Soalnya besuknya juga ada acara lagi.'
'Tapi ini kan mukhoyam sapu jagad akh?'
'iya, habis gimana ya....'
tetap tidak bisa

kadang2, kita menumukan kondisi diatas.

Jumat, 14 Januari 2011

URGENSI DAKWAH


Keberadaan atau eksistensi manusia di muka bumi ini mempunyai misi yang
jelas dan pasti. Misi yang merupakan tujuan asasi. Ada tiga misi yang
diberikan Allah untuk diemban manusia; yaitu misi utama untuk beribadah
(QS. 51:56), misi fungsional sebagai khalifah (QS. 2:30) dan misi
operasional untuk memakmurkan bumi (QS. 11:61). Namun
keberlangsungan dan kelestarian misi ini baru akan terjaga secara benar
apabila manusia mau mendengar dan mentaati risalah yang dibawa para
Rasul. Hanya saja sayangnya tidak semua manusia mau mengikuti dan
menerima seruan mereka, bahkan sebagian besar manusia justru
mendustakan dan mengingkari risalah ilahiah tersebut. Allah berfirman:
”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat(untuk
menyerukan); ”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di
antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada
pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka
berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. 16:36)
Maka, manusia yang mampu menerjemahkan tiga misi tersebut ke dalam
bahasa lisan, sikap dan tindakan adalah manusia yang beriman kepada Allah
SWT. Manusia yang senantiasa merespon seruan dan khitob rabbani dengan
mengucapkan kalimat; “sami’na wa atho’naa”. Inilah syi’ar kehidupan
manusia qurani dan rabbani. Hamba-hamba Allah yang akan dijanjikan
kepada mereka istikhlaf di muka bumi-Nya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada
Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan
“Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (QS. 24:51)
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan
bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benarbenar
akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam
ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan
tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang
(tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (QS.
24:55)
Berdasarkan ayat di atas bisa kita simpulkan bahwa umat Islamlah yang
diberi beban amanah ilahiah dan yang sanggup mengimplementasikan ke
dalam seluruh dimensi kehidupan. Maka umat Islamlah yang seharusnya
memimpin dunia, yang berkewajiban mengajarkan manusia tentang sistem
ilahiah dan membimbing mereka untuk melakukan islamisasi dalam
kehidupannya secara totalitas sehingga benar-benar bisa keluar dari
kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam. Renungkanlah apa yang telah
dikatakan seorang jundi, Rib’i bin Amir kepada Rustum, panglima Persia

dalam perang Qodisiah, ketika ia bertanya:”Gerangan apa yang membuat
anda datang ke negeri kami?” , lalu ia menjawab dengan kalimat ini:
“ Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia yang
dikehendaki-Nya dari penghambaan hamba menuju pengabdian kepada
Allah semata, dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat dan
dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”
Oleh karenanya, tugas ini bukanlah tugas yang ringan, sampingan ataupun
juz’iah (parsial) tanpa dibarengi dengan usaha-usaha maksimal, melainkan
urusan yang besar nan agung. Urusan yang berkaitan dengan pembentukan
syakshiah islamiah, kelestarian sistem-sistem ilahiah dan kebahagian
manusia di dunia dan akhirat. Sayyid Qutb mengatakan: “Barangsiapa
menganggap ringan kewajiban (dakwah ini), padahal ia merupakan
kewajiban yang dapat mematahkan tulang punggung dan membuat orang
gemetar, maka ia tidak bisa melaksanakan secara berkesinambungan
kecuali atas pertolongan Allah. Ia tidak bisa memikul dakwah kecuali atas
bantuan Allah SWT dan tidak akan bisa teguh di atasnya kecuali dengan
keikhlasan pada-Nya. Orang yang berada di jalan ini siangnya berpuasa,
malamnya qiyam (shalat) dan ucapannya penuh dengan dzikir. Sungguh
hidup dan matinya hanya untuk Allah rabbal Alamin, yang tiada sekutu bagi-
Nya.” (Sayyid Qutb, Tafsir Fii Zhilaalil Qur’an)
Dan untuk mensukseskan pelaksanaan amanat yang agung ini dibutuhkan
manusia-manusia yang memiliki iman yang kuat, keikhlasan, hamasah yang
membara dan tadhhiat serta amal yang mustamir (berkesinambungan).
Sehingga nilai-nilai kebenaran Islam yang termuat dalam gerbong dakwah
benar-benar terealisir dan bisa dirasakan oleh semua manusia. Al-Imam
asy-Syahid Hasan al-Banna dalam “risalah ilaa asy-syabab”
berkata:”Sungguh fikrah ini bisa sukses apabila ada iman yang kuat,
keikhlasan yang penuh di jalannya, hamasah yang membara dan adanya
persiapan yang melahirkan tadhhiat dan amal yang merealisasikannya. Dan
empat pilar ini (iman, ikhlas, hamasah dan amal) merupakan karakteristik
bagi para pemuda. Karena dasar keimanan adalah hati yang cerdas, dasar
keikhlasan adalah nurani yang suci, dasar hamasah adalah syu’ur yang kuat
dan dasar amal adalah ‘azm yang menggelora.”
Urgensi Berdakwah
Berdakwah yang bertujuan dan berorientasi kepada perbaikan individu
muslim, pembentukan keluarga muslim, pembinaan masyarakat Islam,
pembebasan tanah air dari hegemoni asing, perbaikan hukumah
(pemerintahan) agar menjadi hukumah islamiah yang senantiasa
memperhatikan kemaslahatan umat dan menjadi “ustadziatul ‘alaam” (soko
guru dunia) merupakan risalah para Nabi dan Rasul. Setiap Nabi
berkewajiban mendakwahkan wahyu dari Allah –azza wa jalla- yang
diterimanya kepada umatnya. Ia harus mentablighkan risalat ilahiah ini
dengan penuh amanah, kejujuran, kecerdasan dan kesabaran di tengah
masyarakatnya. Allah berfirman:
”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan);”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di

antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada
pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka
berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. 16:36)
“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa
kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada
agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS.
33:45-46)
Berdakwah juga merupakan kewajiban syar’i yang harus dilakukan oleh
setiap umat Islam berdasarkan beberapa dalil berikut ini:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;
mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. 3:104)
Ayat ini secara jelas menunjukkan wajibnya berdakwah, karena ada “lam
amr” di kalimat “wal takun”. Begitu juga Rasulullah SAW bersabda:
“Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat.” Hadits ini secara eksplisit
mengisyaratkan bahwa setiap muslim harus mentablighkan apa-apa yang
telah dibawa Rasulullah SAW kepada seluruh manusia, walaupun hanya satu
ayat ataupun satu hadits.
“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak
melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang
haram ?. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.”
(QS. 5:63)
Ibnu Jarir at-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa ia
berkata:”Tidak ada di dalam Al-Quran suatu ayat yang lebih keras
mengolok-olok daripada ayat ini.” (Tafsir Ibnu Jarir). Sedangkan Ibnu Abi
Hatim meriwayatkan dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata: “Ali bin Abi Thalib
pernah berkhotbah, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, ia berkata:
“Wahai manusia, sesungguhnya umat sebelum kamu itu hancur disebabkan
mereka berbuat maksiat sedangkan orang-orang alim dan para pendeta
mereka tidak melarangnya sampai akhirnya ditimpa siksa di saat mereka
terus menerus asyik dalam kemaksiatannya. Oleh karena itu, perintahkanlah
mereka untuk berbuat ma’ruf dan cegahlah mereka dari kemungkaran
sebelum turun adzab seperti yang turun kepada mereka. Ketahuilah
bahwasanya amar ma’ruf dan nahi munkar itu tidak akan memutuskan rizki
dan tidak pula mendekatkan ajal.” (Tafsir Ibnu Katisr, 2/74)
Berkaitan dengan masalah ini, Allah juga menggambarkan fenomena
masyarakat mukmin yang selalu melakukan ta’awun dan amar ma’ruf nahi
munkar di antara mereka. Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka
(adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh
(mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan
sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul4
Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. 9:71)
Selain merupakan kewajiban syar’i, dakwah juga merupakan kebutuhan
masyarakat. Karena dengan dakwah, masyarakat mampu memahami nilainilai
kebenaran Islam, mampu membedakan antara yang hak dan yang batil
serta akhirnya bisa mengaplikasikan ajaran Islam ini lewat sentuhan lembut
tangan para da’i yang bijak, para penunjuk jalan yang tegar dan para
mubaligh yang sabar. Dakwah merupakan muara segala kebaikan, benteng
penangkal siksa dan sarana yang menghantarkan do’a para hamba kepada
Rabbnya. Rasulullah SAW bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh kamu harus melakukan
amar ma’ruf dan nahi munkar atau Allah akan menimpakan kepada kamu
adzab, kemudian kamu berdo’a maka do’a itu tidak akan dikabulkan.” (HR.
At-Tirmidzi, hadits hasan)
Jadi, jelaslah bahwasanya setiap muslim yang sadar dengan identitasnya,
harus berpartisipasi dalam mengemban amanah dakwah ini. Apalagi kita
sebagai pemuda atau orang tua yang berjiwa muda. Kita harus dinamis
membangun jaringan dakwah dan pro aktif dalam memperbaiki
masyarakatnya. Imam Syafi’i dalam antologi puisinya berkata:
“Siapa yang tidak mau ta’lim (dakwah/membina) pada masa mudanya,
maka takbirkan kepadanya empat kali takbir. Karena ia telah mati (sebelum
ia mati).”
Begitu juga Imam asy-Syahid Hasan al-Banna menginginkan manusiamanusia
yang kuat dari kalangan pemuda atau orang tua yang berjiwa muda
saja sebagai pengemban amanah dakwah yang berat ini. Maka dalam risalat
“dakwatunaa fii thaurin jadid” beliau berkata:
“Kami menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat dan tegar. Hati-hati yang
baru nan berkibar-kibar dan ruh-ruh yang memiliki thumuhat, visi jauh ke
depan yang merenungkan teladan dan tujuan-tujuan yang mulia.”
Oleh karena itu setiap ucapan, gerak dan tindakan seorang al akh yang telah
bergabung dalam dakwah ini harus benar-benar mencerminkan nilai-nilai
Islam dan mampu menjadi pesona Islam di tengah-tengah masyarakatnya.
Nakhtalithu (berbaur dan berinteraksi)
Setelah kita memahami dengan benar urgensi dakwah di atas, maka
seyogyanya tidak boleh lagi ada yang hanya berpangku tangan, menikmati
rehat yang berlebihan dan mengatakan kalimat ini: “Pergilah kamu sendiri
ke medan dakwah, aku di sini menunggu natijah akhirnya saja.”
Sebagaimana yang telah diabadikan Al-Quran dalam sebuah ayatnya
tentang ungkapan Bani Israil kepada Nabinya, Musa as. Allah berfirman:
“Mereka berkata:”Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya
selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu

bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami
hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. 5:24)
Ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Bani Israil takut turun ke medan
pertempuran menghadapi musuh-musuh Allah, takut akan kematian, takut
memikul beban berat dakwah dan membiarkan qiyadah berjuang sendirian
dalam liku-liku terjal medan dakwah dan perjuangan. Inilah sebuah
pengkhianatan jundiah terhadap qiyadah, sebuah kedustaan di antara
mereka untuk menolong syari’at Allah dan agama-Nya dan sebuah
pengingkaran terhadap nilai kebenaran dan jalan kebaikan yang dipilihnya.
Haihaata, haihaata (jauh dan juah) perbedaan antara Bani Israil dengan
sahabat-sahabat Rasulullah, di saat menghadapi Kuffar Quraisy dalam
perang Badar. Di mana Abu Bakar bersama sebagian besar sahabat
Muhajirin dan Anshor (Sa’ad bin Mu’adz dan al-Miqdad bin ‘Amr al-Kindy)
begitu semangat mendukung keinginan Rasulullah untuk maju dalam medan
pertempuran. Sebagian mereka mengatakan:”…Demi Dzat yang telah
mengutus engkau dengan haq, sekiranya kita berjumpa dengan lautan
kemudian engkau menyeberanginya niscaya kami akan bersamamu. Tidak
ada seorangpun yang boleh tertinggal. Kami juga tidak suka menunda
pertempuran sampai besok. Sungguh kami adalah orang-orang yang sabar
dalam pertempuran…”
Dan sebagian yang lain berkata: “Demi Allah…wahai Rasulullah, kami tidak
akan mengatakan sebagaimana yang pernah dikatakan Bani Israil kepada
Nabi Musa: ‘idzhab anta wa rabbuka faqootilaa innaa haa hunaa qoo’iduun”,
akan tetapi kami akan berperang bersamamu, kami tetap berada di
sampingmu, kanan, kiri, depan maupun belakang.” (Mukhtahor Tafsir Ibnu
Katsir, II/503)
Oleh karenanya, setelah kita mampu mengishlah diri kita dan
mempersiapkan bekal dakwah yang memadai baik secara jasadiah, ruhiah,
maupun aqliah, maka kita harus “nakhtalith” (bergaul dan berinteraksi)
dengan masyarakat untuk menyerukan nilai-nilai kebenaran Islam yang
termuat dalam gerbong dakwah kita. Kita harus proaktif melakukan interaksi
sosial di tengah-tengah masyarakat untuk menebarkan cahaya Islam.
Karena kita tidak boleh berhenti di saat kita sampai di terminal kesalehan
pribadi. Namun kita dituntut terus menerus mentransfer nilai-nilai kesalehan
yang ada di terminal ini ke terminal selanjutnya, yaitu terminal kesalehan
sosial. Ingat syi’ar dakwah kita adalah kalimat ini: “Ashlih nafsaka awwalan
wad’u ghairaka tsanian.” Artinya setiap kita setelah mampu melakukan
perbaikan diri harus menyeru dan mengajak orang lain untuk kembali
kepada nilai-nilai Islam. Agar mereka sama-sama merasakan lezatnya
beriman dan bertakwa dalam shaf dakwah. Di sini, al-Imam asy-Syahid
Hasan al-Banna mengatakan: “Maka awal kewajiban kita sebagai Ikhwan
menjelaskan kepada manusia tentang batasan-batasan agama Islam dengan
penjelasan yang sempurna dan jelas tanpa ada tambahan dan
pengurangan…” (Imam asy Syahid Hasan al-Banna, Majmu’ah ar Rasa-il, hal
451)
Dan inilah sosok pribadi muslim yang diharapkan oleh Islam. Manusia
muslim yang senantiasa berjalan dan berinteraksi di tengah-tengah

masyarakat dengan cahaya Islam. Perhatikan ayat di bawah ini:
“ Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia dia Kami hidupkan dan
Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia
dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang
yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat
keluar dari padanya.” (QS. 6:122)
Ustadz al-Bahy al-Khuly dalam “Tadzkiraat ad-Du’aat” mengingatkan kepada
seorang akh yang telah bergabung dalam dakwah ini, tetapi masih memiliki
kegamangan dan keraguan untuk memikul beban berat mas’uliah dakwah.
“Kami berkata :” Kenapa kamu ini, tidaklah kamu ingin menjadi da’iah.
Sementara kami telah menjelaskan sebagian beban-beban dakwah ini. Maka
apabila kamu merasa mampu, lakukanlah sesuai dengan kemampuanmu.
Dan jikalau tidak, maka sesungguhnya Allah mengabaikan (tidak
memperhitungkan) orang-orang semacam kamu. Duduklah bersama barisan
orang-orang yang lemah. Dan bertakwalah kepada Allah dalam barisan yang
berbahaya ini.” (hal 208)
Dan untuk sampai kepada tujuan akhir yang kita inginkan, dakwah ini harus
didukung oleh “katsratul anshor” (banyaknya penolong) yang memiliki
kemampuan merekayasa masyarakat dan membentuk “ar-ra’yul ‘aam”
(opini umum). Hal ini mustahil bisa kita realisasikan tanpa ada usaha
maksimal dalam menjaring dan merekrut obyek dakwah yang ada di
masyarakat. Dan tausi’ah (perekrutan) ini, tidaklah berhasil kecuali kita
harus berbaur dan berinteraksi (ikhtilath) di tengah-tengah ummat. Jadi
berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat dalam qaidah dakwah kita
merupakan suatu keniscayaan sekaligus kewajiban yang tidak mungkin
diabaikan oleh setiap kader dakwah. Mungkinkah kita melahirkan generasigenerasi
rabbani dengan berpangku tangan saja? Membangun umat dengan
berdiam di rumah tanpa melakukan gerakan dan aktivitas? Dan mungkinkah
menuju ustadziatul ‘alam dengan kemalasan, sikap statis dan keinginan
rehat yang berlebihan?
Oleh karenanya, dalam melahirkan dan menjaring generasi-generasi rabbani
dan generasi penolong-penolong agama harus ada gerakan dakwah yang
teroganisir serta dibarengi dengan kehendak yang kuat, kehendak yang
tidak pernah mengenal kejenuhan dan kelemahan. Harus ada “wafa’ tsabit”
yang tidak pernah mengenal kepura-puraan dan pengkhianatan. Harus ada
tadhhiat (pengorbanan) luhur yang tidak pernah mengharapakan imbalan
dan harus diiringi dengan pemahaman yang benar tentang “mabda” (dasar
atau prinsip) dakwah ini. Perhatikan ungkapan sang Da’i di bawah ini:
“Sesungguhnya tujuan akhir dan natijah yang sempurna tidak pernah
terealisir kecuali setelah (adanya tiga kekuatan ini): “ ‘umuumud di’aayat
(gencarnya dan tersebarnya pesan sponsor dakwah yang membentuk opini
umum),”katsratul anshor” (banyaknya pendukung yang mampu membentuk
jaringan-jaringan dakwah) dan “matanatut takwiin” (kekokohan pembinaan
yang mampu membangun wajihat-wajihat amal).
Sesungguhnya membangun bangsa, mentarbiyah masyarakat,

merealisasikan cita-cita dan memperjuangkan serta menancapkan tonggaktonggak
(dakwah) membutuhkan –dari umat atau kelompok yang berusaha
atau menyeru kepadanya- minimal kepada kekuatan jiwa yang agung
dengan ciri-ciri: (memiliki) iradah qowiah yang tidak pernah melemah, wafa
tsabit (kesetiaan yang teguh) yang tidak pernah disusupi kepura-puraan dan
pengkhianatan, pengorbanan yang tidak terbatasi oleh keserakahan dan
kekikiran, pemahaman, keyakinan dan penghormatan yang tinggi terhadap
prinsip atau dasar (dakwah) yang mampu menghindarkannya dari
kesalahan, penyimpangan, tawar-menawar dan tertipu oleh prinsip atau
ideologi lain.
Hanya di atas pilar-pilar utama ini –yang sepenuhnya menjadi kekhususan
jiwa- dan hanya di atas kekuatan ruhiyah yang dahsyat, prinsip-prinsip
dakwah ini dibangun, umat yang sedang bangkit terbina, bangsa yang
berjiwa muda terbentuk dan sungai kehidupan terus mengalir dalam jiwa
orang-orang yang sekian lama mengalami kekeringan….” (Risalat Ilaa Ayyi
Syai-in Nad’u an-Naasa)
Natamayyazu (tampil beda dan istimewa)
Dan saat ini berikhtilath (berbaur) dan berdakwah di tengah-tengah
masyarakat, kita akan berhadapan dengan beragam sikap, watak, budaya
dan nilai-nilai sosial yang jauh dari bingkai moral keagamaan. Bisa jadi kita
berada dalam sebuah lingkungan sosial yang rentan terhadap budaya
negative desdruktif dan yang mampu menumbangkan tonggak-tonggak
pemikiran serta prinsip yang selama ini kita yakini akan kebenarannya.
Sehingga terjadi “idzbatusysyakhsyiah islamiah” dalam diri kita. Kemudian
sedikit demi sedikit kita larut dalam kubangan budaya dan kebiasaan yang
tidak islami. Dan akhirnya kita lupa akan prinsip-prinsip kebenaran yang
selama ini kita bangun.
Maka meskipun berbaur dengan seluruh segmen masyarakat, kita harus
terus-menerus mempertahankan prinsip kebenaran Islam. Kita tetap
memiliki benteng “mumaayazah wa muwaashalah” (pembeda dan
pembatas) yang mampu menjembatani antara diri kita dan nilai-nilai
destruktif yang ada di masyarakat. Karena prinsip dakwah kita adalah
“nakhtalithu walakin natamayyazu” (berinteraksi tanpa terkontaminasi). Kita
tidak boleh mengikuti keinginan-keinginan obyek dakwah yang tidak
mencerminkan nilai-nilai Islam atau malahan bertentangan dengannya. Allah
berfirman;
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa
yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.
Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak
memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu.” (QS. 5:48)
“Andaikan kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit
dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah

mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling
dari kebanggaan itu.” (QS. 23:71)
Kader dakwah yang menjadi politikus atau yang duduk di tiga lembaga
tinggi negara harus mampu menjaga “mabadi islamiah” yang berkaitan
dengannya, mengutamakan pelayanan masyarakat, menjunjung tinggi
prinsip keadilan dan supremasi hukum serta menjaga citra identitas
keislamannya. Sehingga seorang kader senantiasa berhias dengan etika dan
moral islami ketika memainkan peran di lembaga tinggi ini. Dan tidak
sebaliknya, bersikap dan bertindak yang tidak mencerminkan sikap seorang
kader dan bahkan mencoreng citra serta nilai-nilai luhur Islam.
Sebagai ekonom, enterpreneur dan budayawan muslim, ia harus senantiasa
berpegang teguh dengan aturan-aturan yang telah digariskan oleh Islam.
Sehingga semua muslim yang terjun di berbagai dimensi kehidupan tetap
menjadi cahaya yang terus menerus menyinari lingkungan sekitarnya.
Mereka tidak pernah mendukung atau ikut-ikutan KKN, mereka tidak
terjangkit penyakit dekadensi moral (perselingkuhan, wil dan pil, perzinaan
dan mabuk/nyimeng) dan mereka juga tidak berfoya-foya serta
menghambur-hamburkan uang negara. Sebaliknya, mereka bisa menjadi
uswatun hasanah terhadap apa yang diserukannya, qudwah hasanah dalam
ucapan, perbuatan, sikap keseharian dan harus menjadi model-model
muslim yang mempesona.
Oleh karenanya, seorang kader sebelum terjun dalam medan dakwah harus
membekali dirinya dengan bekal ruhiah yang kokoh selain bekal ilmiah dan
manajerial. Hal ini dimaksudkan untuk membentengi antara diri seorang
kader dari virus-virus budaya dan moral yang tumbuh bak jamur dalam
masyarakat. Sehingga kekuatiran akan munculnya “idzbatu syakhsyiah
islamiah” tidak terjadi pada diri seorang kader.
Sumber: Tarbiyah Menjawab Tantangan, Rabbani Press, 2002

Rabu, 12 Januari 2011

Perdalam Samudera Keikhlasanmu

Ini termasuk pesan yang sangat ingin aku sampaikan: perdalam samudera keikhlasanmu. Realitas lapangan dakwah mengajarkan hal penting kepada kita, bahwa daya tahan di dalam mengarungi perjuangan sangat ditentukan oleh sebesar apa penjagaan keikhlasan dalam diri kita. Sangat banyak kejadian dan kondisi jalan dakwah yang bisa mengganggu kaikhlasan. Sesiapapun akan diuji keikhlasannya di jalan ini: yang “berhasil” menjadi pejabat publik, yang “tidak berhasil” menjadi pejabat publik, yang “tidak pernah” menjadi pejabat publik, yang “selalu” menjadi pejabat publik…..
Semua dari kita diuji. Yang menjadi caleg, yang menjadi aleg, yang menjadi aktivis mahasiswa, yang menjadi aktivis sosial, yang menjadi ibu rumah tangga, yang menjadi murabbi, yang menjadi pengurus partai, yang menjadi petani….. Semuanya, ya semuanya selalu dihadapkan kepada ujian yang kadang bisa mengganggu keikhlasan.
Perasaan Berjasa: Ini Hasil Kerja Saya !
Ketika dakwah menunjukkan hasil-hasil dan prestasi yang menggembirakan, wajar jika muncul perasaan kebanggaan pada pelakunya. Ini perasaan yang sangat manusiawi. Namun perasaan ini jangan dibiarkan berkembang menjadi klaim atas usaha pribadi dan meremehkan kerja orang lain. Karena dalam setiap keberhasilan dakwah, pasti akan dijumpai peran semua pihak dalam mencapai keberhasilan tersebut, sekecil atau sebesar apapun.
“Kalian tahu, siapa yang telah melakukan perubahan spektakuler, sehingga tercipta hasil yang sangat menakjubkan ini? Tidak ada lain yang bisa melakukannya, kecuali saya. Semua saya kerjakan sendiri”, pernyataan ini sangat mungkin benar sesuai realitas yang ada. Namun ungkapan ini bisa menjadi awal dari munculnya kesombongan, apabila merasa bahwa kehebatan dirinya tidak ada yang menandingi, dan meremehkan peran orang lain.
“Payah benar kader di sini. Tidak ada yang mau bekerja. Kalau saja saya tidak bergerak, Pemilu kemarin hasilnya tidak akan sebagus ini”.
“Kemenangan Pilkada di daerah ini adalah hasil kerja keras dan jerih payah saya. Pengorbanan yang saya berikan telah membuahkan hasil berupa kemenangan gemilang. Jika saya tidak terlibat, saya tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi”.
“Organisasi dakwah ini menjadi besar dan berkembang pesat, karena usaha yang saya lakukan. Kader-kader lain tidak memiliki peran dan keterlibatan, sehingga terpaksa saya bekerja sendiri. Alhamdulillah hasilnya signifikan”.
Masyaallah. Benarkah kita bisa bekerja sendiri ? Dalam sistem amal jama’i yang dibangun organisasi dakwah, seluruh bagian akan saling berkait, berhubungan dan mempengaruhi. Kita tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh bagian lain yang ada dalam mesin amal jama’i ini. Ibarat mesin mobil, semua komponen saling berpengaruh dan berhubungan. Laju mobil merupakan hasil kerja simultan seluruh bagian.
Bisa jadi memang ada bagian atau komponen dalam organisasi dakwah yang senyatanya menjadi beban bagi yang lainnya. Namun itu tidak memberikan makna bahwa semua orang menjadi beban, dan hanya seseorang atau segelintir orang saja yang punya peran. Bisa jadi memang ada kader yang pasif dan tidak banyak kontribusi, namun itu bukan berarti semua kader memiliki kondisi kelemahan serupa. Seakan-akan kontribusi hanya menjadi milik seseorang atau segelintir orang yang sangat hebat dalam organisasi dakwah.
Lalu dimana letak ikhlas itu ? Kalau kita merasa memiliki banyak peran, banyak kontribusi, banyak keberhasilan, banyak capaian, kemudian mengecilkan bahkan meniadakan peran yang lain, dimana ikhlas itu ?
Perasaan Melempar: Siapa Yang Salah ?
Ketika dakwah mencapai kemenangan tidak layak ketika ada pihak yang merasa berjasa sendirian. Sebagaimana pada saat dakwah tidak berhasil mencapai target kemenangan, sangat tidak etis jika muncul suasana saling menyalahkan. Masing-masing pihak merasa tidak bertanggung jawab dan melempar kesalahan kepada pihak lainnya.
”Kita kalah dalam Pemilu gara-gara departemen Fulan yang tidak bekerja. Mereka bersantai-santai saat kita bekerja keras, akhirnya mengacaukan semua target”.
”Target tidak berhasil kita capai karena kelemahan bidang Anu. Pengurus bidang Anu tidak becus mengurus programnya sehingga membuat semua bagian ikut berantakan. Kita sudah bekerja habis-habisan, akhirnya tidak ada gunanya”.
”Kita gagal mencapai target karena kader tidak bersemangat dan tidak mau berkorban. Program sudah bagus, sarana pendukung sudah disiapkan, namun kadernya tidak mau bekerja, maka kita kalah”.
”Kekalahan kita disebabkan tidak tegasnya pimpinan. Para kader sudah sangat bersemangat dan siap bekerja, namun pimpinan tidak memiliki ketegasan sikap, akhirnya semua menjadi kacau”.
Betapa mudah melempar kesalahan. Ini salah siapa ? Bukan salah saya, ini salah Fulan, ini salah kader, ini salah pengurus, ini kesalahan Ketua, ini kesalahan bendahara, ini kesalahan sekretaris, ini salah kaderisasi, ini salahnya si Kodok… Bukan, bukan salah saya…. Saya sih tidak punya salah….
Dimana letak keikhlasan kita ?

Kecewa adalah Tanda Cinta

“Orang-orang partai politik itu mudah kecewa. Begitu keinginannya tidak terpenuhi, lalu keluar dari partainya dan membuat partai baru”, kata seorang teman kuliah di Lemhannas berapi-api. Aku hanya mengatakan, “Tergantung partainya, dan tergantung orangnya”. Dia terus saja mengomel tentang jeleknya orang-orang parpol, dan jawabanku pun tetap sama.
Ini soal perasaan kecewa. Sesungguhnyalah kecewa muncul karena adanya harapan yang tidak kesampaian. Ada harapan yang ditanam, dan ternyata tidak didapatkan dalam kenyataan. Inilah yang menyebabkan muncul kekecewaan. Jarak yang terbentang antara harapan dengan kenyataan itulah ukuran besarnya kekecewaan. Semakin lebar jarak yang terbentang, semakin besar pula kekecewaan. Oleh karena itu, kecewa itu ada di mana-mana, di lingkungan apa saja, di dunia mana saja, selalu ada kecewa.
Mari kita mulai dari yang paling kecil dan sederhana. Kadang kita kecewa dengan diri kita sendiri. “Mengapa saya tidak begini, mengapa saya tidak begitu”, adalah contoh kekecewaan yang kita alamatkan kepada keputusan kita sendiri yang telah terjadi. Kita menyesal di kemudian hari.
Dalam kehidupan rumah tangga yang isinya hanya dua orang saja, yaitu suami dan isteri, bisa muncul kekecewaan. Suami kecewa kepada isteri, dan isteri kecewa kepada suami. Hidup berdua saja bisa menimbulkan kecewa, apalagi kehidupan organisasi atau negara.  Jika di dalam rumah tangga mulai ada anak-anak, kekecewaan bisa bertambah luas. Anak kecewa dengan sikap orang tuanya, dan orang tua kecewa dengan kelakuan anaknya. Satu anak dengan anak lainnya juga bisa saling kecewa mengecewakan.
Satu keluarga bisa kecewa atas perbuatan keluarga lainnya dalam sebuah lingkungan tempat tinggal. Satu desa bisa kecewa dengan desa lainnya dalam satu kecamatan. Indonesia sangat kecewa dengan sikap Amerika yang arogan, kecewa dengan sikap Israel yang merampas hak warga sipil Palestina secara semena-mena. Sebagaimana Amerika kecewa dengan Indonesia karena kurang akomodatif dengan kebijakan Amerika. Israel kecewa dengan Indonesia karena tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Jamaah sebuah masjid bisa kecewa dengan sikap imam masjid, sebagaimana imam masjid bisa kecewa dengan kondisi jamaah. Masyarakat gereja bisa kecewa terhadap pendeta sebagaimana pendeta bisa kecewa terhadap keadaan jemaatnya. Suporter sepak bola sering kecewa terhadap tim yang dibelanya, sebagaimana pemain sepak bola sering kecewa kepada sikap para suporter.
TNI bisa kecewa terhadap kebijakan dan sikap Polri sebagaimana Polri bisa kecewa terhadap TNI. Angkatan Darat bisa kecewa terhadap Angkatan Laut dan Udara, sebagaimana Angkatan Laut bisa kecewa terhadap Angkatan Darat dan Udara, atau Angkatan Udara kecewa terhadap Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Di Angkatan Darat, seorang komandan bisa kecewa terhadap anak buahnya, sebagaimana anak buah bisa kecewa kepada komandannya.
Dalam gerakan dakwah, seorang kader bisa kecewa kepada pemimpin, sebagaimana pemimpin bisa kecewa atas sikap para kader. Seorang kader PKS menyampaikan pesan lewat SMS kepada saya, yang isinya mengatakan sangat kecewa dengan PKS dan akan keluar serta bergabung dengan sebuah gerakan dakwah tertentu, sebut saja gerakan G. Saya menjawab dengan dua kali jawaban. Pertama, bahwa hak masuk dan keluar dari PKS adalah di tangan anda sendiri, tak ada yang boleh memaksa. Kedua, kalau anda keluar dari PKS karena kecewa dan akan bergabung dengan gerakan dakwah G, maka ketahuilah bahwa gerakan G itu juga pernah mengecewakan anggotanya. Ada banyak orang kecewa dari gerakan G dan berpindah ke gerakan yang lainnya. Di setiap gerakan dakwah, selalu ada orang yang kecewa dan meninggalkan gerakan dakwah itu. Selalu.
Sepanjang sejarah kemanusiaan paska masa kenabian, tidak ada satupun organisasi yang tidak pernah mengecewakan anggotanya. Semua organisasi, semua gerakan, semua harakah pernah mengecewakan anggotanya. Selalu ada anggota organisasi atau anggota gerakan yang kecewa dan terluka. Selalu.
Ini bukan soal benar atau salahnya kondisi tersebut. Ini hanya potret sesungguhnya, begitulah kenyataan yang ada. Cobalah sebut satu saja contoh organisasi, ormas, gerakan dakwah, instansi, atau apapun. Pasti ada riwayat pernah ada anggota atau pengurus yang kecewa. Kalau tidak ada yang pernah dikecewakan, berarti organisasi tersebut belum pernah beraktiviktas nyata.
Bahkan organisasi yang dibuat dari kumpulan orang kecewa, pasti pernah mengecewakan anggotanya pula. Misalnya sekelompok orang kecewa dengan kebijakan organisasi A, lalu mereka menyingkir dan berkumpul. Mereka bersepakat, “Kita berkumpul di sini karena dikecewakan para pemimpin kita. Sekarang kita himpun potensi kita, dan kita berjanji untuk tidak saling mengcewakan lagi. Jangan ada yang dikecewakan disini”. Tatkala mereka sudah eksis sebagai organisasi, maka pasti ada yang kecewa di antara mereka.
Mereka tidak tahu, bahwa kecewa itu tanda cinta. Kalau tidak cinta, tidak mungkin kecewa. Karena cinta, maka muncullah berbagai harapan kita. Setelah harapan tertanam, ternyata apa yang kita lihat dan kita alami tidak seperti yang diharapkan. Maka muncullah kecewa.
Mengapa beberapa orang parpol yang kecewa lalu membuat parpol baru lagi ? Karena boleh menurut Undang-undang. Coba kalau Undang-undang membolehkan membuat TNI baru, atau Polri baru, atau Mahkamah Agung baru, atau DPR baru, pasti sudah banyak orang membuat dari dulu. Banyak orang kecewa dengan TNI, banyak orang kecewa dengan Polri, banyak orang kecewa dengan Mahkamah Agung, banyak orang kecewa dengan DPR, banyak orang kecewa dengan Presiden dan Wakil Presiden, banyak orang kecewa dengan Menteri, banyak orang kecewa dengan Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa, Ketua RW atau Ketua RT.
Jadi, kecewa itu ada dimana-mana, karena cinta ada dimana-mana, karena harapan ada dimana-mana. Namun muncul pertanyaan, pantaskah kita tidak berani memiliki harapan karena takut dikecewakan ? Jawabannya jelas, tidak pantas !
Karena harapan itulah yang membuat kita bersemangat, karena harapan itulah yang membuat kita bekerja, karena harapan itulah yang membuat kita selalu berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik, bahkan karena harapan itu pula yang membuat kita ada. Jangan takut memiliki harapan masuk surga. Jangan takut memiliki harapan Indonesia yang makmur dan sejahtera. Jangan takut memiliki harapan Indonesia menjadi negara paling adil dan paling maju di seluruh dunia.
So, teruslah memiliki dan memupuk harapan. Teruslah bekerja, teruslah berkarya, hingga akhir usia. Jangan takut kecewa.
Pancoran Barat 30 Nopember 2010



http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=519#comment-606

Senin, 10 Januari 2011

Di Antara Penghargaan Gubenur Jabar

Tahun 2008
1. Penghargaan dari Departemen Pekerjaan Umum atas pencapaian kinerja terbaik peringkat pertama Bidang Jasa Konstruksi.
Tahun 2009
2. Penghargaan Departemen Pendidikan Nasional, atas kepedulian dan kinerja yang tinggi dalam percepatan pemberantasan buta aksara.
3. Penghargaan Departeman Sosial, atas kepedulian dan keberpihakan dalam mewujudkan kesamaan kesempatan bagi penyandang cacat;
4. Penghargaan Kementerian Perumahan Rakyat, meraih ADI UPAYA PURITAMA, atas kontribusi yang signifikan bagi pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia,
5. Penghargaan Departemen Pertanian, meraih AGRO INOVASI 2009, atas dukungan, kerjasama penelitian, inovasi dan pengembangan pertanian,
6. Penghargaan Menteri Keuangan, sebagai daerah berprestasi berdasarkan kinerja keuangan, kinerja ekonomi, dan kesejahteraan.
7. Penghargaan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pusat atas terjalinnya kemitraan dan kerjasama ekonomi di Jabar;
Tahun 2010
8. Berdasarkan Hasil Survey Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia, Pemprov Jawa Barat berhasil sebagai salah satu provinsi terbaik dalam hal integritas pelayanan publik,
9. Meraih REGIONAL CHAMPION dari Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia, sebagai salah satu Provinsi dari 7 Provinsi Unggulan dengan iklim investasi terbaik.
10. Penghargaan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia sebagai Gubernur Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tahun 2010;
11. Juara umum pada penyelenggaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional XXIII Tahun 2010 di Provinsi Bengkulu,
12. Penghargaan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, meraih Tanda Penghargaan Lencana DARMA BAKTI, atas jasa/sumbangannya yang cukup besar artinya bagi perkembangan Gerakan Pramuka dan gerakan kepramukaan di dunia,
13. Penghargaan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), meraih MANGGALA KARYA KENCANA, atas jasa-jasa yang sangat menonjol dalam menggerakkan peran serta masyarakat untuk mencapai keberhasilan Program KB Nasional
14. Penghargaan Menteri Kesehatan Republik Indonesia berupa tanda penghargaan KSATRIA BAKTI HUSADA KARTIKA, atas jasa luar biasa dalam menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat,
15. Juara nasional dengan predikat LPSE terbaik tingkat nasional,
16. Penghargaan Departemen Pekerjaan Umum atas pencapaian kinerja terbaik Bidang Kebinamargaan tahun 2010,
17. Penghargaan Presiden RI sebagai provinsi dengan produksi padi tertinggi tingkat nasional,
18. Juara Umum penghargaan ADIBAKTI MINA BAHARI, atas kontribusi dan peran serta dalam peningkatan produktivitas ekonomi, pengembangan usaha perikanan, dan pelestarian sumberdaya ikan maupun lingkungan. (islamedia.co.nr)

PKS Makin Percaya Diri Usung Capres Sendiri

PKS tidak melihat Ani Yudhoyono sebagai kompetitor capres 2014. 


VIVAnews - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah menilai pemunculan nama Ibu Negara Ani Yudhoyono sebagai calon presiden merupakan kabar baik. Di lain sisi, PKS ada wacana ingin mengusung calon sendiri.

"Saat ini, kader PKS sedang percaya diri untuk memajukan calon presiden sendiri," kata Fahri Hamzah dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Senin 11 Januari 2011.

Bagi Fahri, PKS tidak melihat Ani Yudhoyono sebagai kompetitor calon presiden. Karena selain waktunya masih lama, PKS memiliki banyak kandidat yang memiliki daya pilih lebih tinggi.

"Lihat saja pada tren pilkada di provinsi-provinsi besar. PKS menang di sana. Ada pola pemenangan yang bisa kita gunakan," kata Wakil Ketua Komisi III Bidang Hukum DPR ini.

PKS menilai untuk pasangan capres-cawapres merupakan paket yang bisa dikompromikan. Seperti halnya dalam pilkada. Kendati demikian, PKS meminta semua pihak menahan diri karena masih tiga tahun lagi jelang pemilihan presiden.
"Kita lihat saja nanti. Cuma yang jelas, kader PKS sedang confident untuk maju," jelas anggota DPR dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat ini.
Rencana pengusungan capres sendiri oleh PKS pernah digaungkan pula oleh Wakil Sekretaris Jenderal PKS Mahfudz Siddiq. Mahfudz menyatakan tak puas dengan mekanisme yang berjalan di Sekretariat Gabungan (Setgab) dan mengajak partai-partai untuk membangun koalisi 'partai tengah' untuk mengimbangi koalisi Partai Demokrat dan Golkar.
"Perlu kekuatan tengah untuk mengimbangi Golkar dan Demokrat," kata Mahfudz Siddiq, Selasa, 21 Desember 2010. Bahkan, ujar Ketua Komisi I DPR itu, bukan tak mungkin kekuatan tengah dapat memunculkan capres sendiri. "Atau bahkan berkolaborasi dengan PDIP yang kecil kemungkinannya bergabung ke Demokrat atau Golkar," kata Mahfudz.
Seperti diketahui, nama Ani Yudhoyono pernah disurvei oleh Indo Barometer pada Agustusu 2010. Dengan menggunakan metode pertanyaan tertutup, Ani Yudhoyono berada di posisi enam mengalahkan Surya Paloh, Hatta Rajasa, Suryadharma Ali, dan Luthfi Hasan Ishaaq. (sj)
• VIVAnews

Berbagi makna dalam rangkaian kata-kata...

Jika kata adalah sepotong hati, maka ilmu adalah cindera jiwa. Apa kita tidak ingin belajar dari ayahanda Ibrahim dan bunda Hajar tentang taqwa, sabar dan ikhlas dalam perjuangan. Teguhlah disaat yang lain rapuh. Bersabarlah karena setiap luka akan bermakna. Dan bergeraklah karena Allah, Rasul dan orang mukmin
Malam selalu merindukan pejuang-pejuang khalwat yang meneteskan air mata karena raja’, khauf, dan mahabbah. Jika Dia tebarkan cintanNya untuk setiap doa kita. Maka tiada pilihan selain berharap dan menangis. Qum!

Kemenangan itu adalah pilihan bukan keberuntungan/kebetulan semata. Kemenangan itu bukan (saja) hasil memuaskan tapi proses yang benar. Kemenangan adalah keniscayaan bagi kita

Rabb, alasan pergerakan kami adalah Engkau, alasan ukhuwah kami adalah ENgkau, alasan kami bersatu adalah Engkau.Maka peliharalah jama’ah ini dan keberkahan syura dengan kekuasaanMu

Kemenangan bukanlah banyaknya kursi yang diraih, bukan banayak suara yang diperoleh, tapi kemenangan sejati adalah kemenangan hati rakyat Indonesia (HNW)
Allah mensyukuri orang yang bersyukur pada-Nya dan orang yang beriman dalam hatinya, lalu Ia memberitahukan bahwa hamba itu akan mendapat pahala yang sangat banyak

Kunci kemualiaan adalah TAAT kepada Allah dan RasulNya. Kunci kemenangan dan keberuntungan adalah SABAR. Kunci keberhasilan adalah DO’A
Inti ilmu adalah kejelasannya dan buahnya keselamatan. Inti kebersihan diri adalah qana’ah dan buahnya adalah rasa lapang. Inti dari sabar adalah menahan diri dan buahnya adalah kemenangan. Inti amalan adalah kesesuaian dan buahnya adalah kesuksesan. Dan puncak kemuliaan segala sesuatu adalah kejujuran

Murid aristoteles; APa yang harus saya lakukan? saya tidak memiliki ketekunan untuk membaca. Dan tidak mempunyai kesabaran terhadap kelelahan dan kejenuhan belajar. Aristoteles; kalau demikian tidak ada jalan bagimu kelak, kecuali harus  sabar menghadapi kesengsaraan dan kebodohan

Apabila seorang hamba selalu menyegerakan hak Allah atasnya, maka bagaimanalah Allah akan menunda memenuhi hak hamba itu

Jika anda ingin membiasakan sesuatu dalam hidup anda, maka latihlah dengan memaksakan sesuatu itu dalam diri anda secara rutin selama 30 hari

Amanah ibarat musuh, jangan dicari.Tapi jika ketemu jangan lari. Amanah ibarat kiriman orang tua, datang sebelum kita kehabisan. Amanah ibarat maut, datangnya tidak pernah menunggu kesiapan kita. Pun amanah sekecil titik-titik itu akan berhimpun menjadi garis-garis sketsa lukisan kemenangan
Biarlah Allah saja yang menyemangati kita. Sehingga tanpa sadar setiap peristiwa menjadi teguran atas kemalasan kita. Cukuplah Allah saja yang memelihara ketekunan kita, karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang bermakna, pribadi yang saat berbaur. Ia mampu menyemangati yang lain dan saat sendiri ia mampu menguatkan dirinya sendiri
Pada tiap mata laki-laki ada serigala. Pada setiap mata wanita terdapat sihir yang mampu membuat laki-laki menjadi serigala. Hai wanita jaga dirimu! Hai laki-laki jaga “serigala”mu
Kita tak sanggup selamanya terluka, tapi ingatlah setiap tetesan air mata itulah mahar kita menuju surga. Bia aditanya kenapa kesabaran itu pahit? Jawabannya karena surga itu manis.

Jika kita amencintai seseorang karena kebaikan dan prestasinya, itu bukan CINTA tapi KAGUM. Jika kita mencintai sesorang karena fisiknya, itu bukan CINTA tapi NAFSU,
Jika Kita mencintai seseorang karena dia pernah membantu kita, itu bukan CINTA tapi TERIMAKASIH
Jika kita mencintai sesorang karena Allah, itulah CINTA sesungguhnya

Senang dan sedih, berat atau ringan, indah atau buruk. Itu hanyalah sugesti relatif terhadap keluasan hati. Allah tidak akan memebani kita melebihi kemampuan kita, karena Ia lebih tahu dari diri kita
Kesuksesan adalah 90% kedisplinan, 10%bakat. Banyak beralasan adalah ciri kemalasan, banyak kata maaf adalah ciri kebodohan

Kebiasaan Rasulullah SAW ketika sedang jenuh dan lelah dalam berjuang adalah sholat 2 rakat(shalat sunah mutlak) atau tilawah
Selamatkanlah hatimu maka engkau akan menyelamatkan segalanya
Akar dari semua bentuk kesyirikan adalah cinta yang keliru. Sedangkan hakikat ibadah hamba kepada Allah tidak bisa diperoleh dalam kesyirikan cinta (Ibnu Qayyim)
Sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, mereka tidak akan mundur, dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya (QS.33:15)

Kepuasan terletak dalam upaya bukan dalam pencapaian. Upaya penuh merupakan kemenangan penuh (Mahatma Gandhi)
Tidak ada hati yang menderita mengejar impian, karena setiap detik pengejaran adalah detik pertemuan dengan Tuhan dan keabadian (Paulo Coelho)

Jika anda ingin menjadi orang yang luar biasa, tidak akan bisa jika anda hidup seperti orang biasanya hidup. Terbaik dalam berusaha akan membuat anda menjadi yang terbaik. Berbedalah, maka kau akan dikenal

Para wali Allah jika menempuh perjalanan yang sulit mereka justru optimis. sedangkan jika mereka melewati perjalanan yang mudah mereka malah khawatir (Wahb bin munabbih)

Kemenangan adalah keberhasilan menghadapi tantangan. Tantangan adalah cara pandang kita terhadap sebuah peluang. Peluang adalah pemanfaatan kesempatan. Menyia-nyiakan kesempatan adalah menyia-nyiakan kemenangan
Dia mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (QS.Al-Mu’min 19). Adalah fitrah memliki kecenderungan terhadap lawan jenis, tapi mengelolanya agar tidak menimbulkan fitnah dan pelanggaran adalah bukti cinta pada Allah. Sungguh berdusta orang yang mengaku cinta pad allah tapi tidak mmperhatikan larangannya. Mari tengok hati, apakah kita berdusta?


http://aisyahkecil.wordpress.com/2010/04/18/cuci-sms/

Jumat, 07 Januari 2011

Tujuh Golongan yang mendapat kado istimewa dari alloh

dakwatuna.com – Saudara pembaca yang dirahmati Allah swt. Sudah kita ketahui bahwa usia pemuda adalah usia yang cukup menarik. Yang masih terkandung energi atau tenaga yang lebih banyak dibanding yang lebih senior. Dan Allah pun memberikan keistimewaan kepada pemuda. Karena PEMUDA HARI INI ADALAH PEMIMPIN MASA DEPAN yang harus dipersiapkan untuk menjadi teladan yang baik di kemudian hari. Allah pun memberikan ujian yang lebih “keren” kepada pemuda dibanding kepada orang tua. Hal kecil saja, misalnya seorang pemuda laki-laki yang sedang tertarik kepada seorang pemuda perempuan yang cantik. Hal ini ujian, yang jika tidak terjaga maka pemuda tersebut akan terjerumus kepada kemaksiatan. Lalu, ujian kemalasan beribadah kepada Allah. Jika ia lalai, maka Allah pun akan menyesatkannya.
Subhanallah Saudara pembaca, Allah Maha Adil, Dia memberikan ujian yang sebanding dengan pahala yang akan didapatkannya. Memang ini adalah sunnatullah, ini cara Allah untuk memberikan rasa pengharapan dan takut hanya kepada-Nya.
Berbicara mengenai kata perbuatan, Allah akan memberikan ganjaran pahala bagi orang yang beramal shalih, sebaiknya Dia akan memberikan hukuman bagi yang berbuat kemunkaran. Sebagaimana orang tua yang memberikan hadiah bagi anak-anaknya yang baik dan berprestasi dan memberikan hukuman bagi yang nakal.
Hadiah ini memang akan Allah berikan saat hari terakhir kita (kiamat), namun jika kita tidak mengetahuinya, mungkin kita akan diam dan berpangku tangan karena tidak mengetahui
Hadiahnya itu.
Naungan Allah pada hari kiamat, saat tidak ada naungan lagi selain dari Allah Yang Maha Rahmaan-Rahiim. Itulah kado istimewa yang Allah sediakan untuk kita, pemuda. Siapa saja tujuh golongan itu??

1. Hakim yang Adil
Nah lho…, katanya pemuda, tapi yang disebut malah hakim?? Saudara pembaca yang budiman, di antara kita mungkin sudah sering mendengarkan kalimat ini. Setiap orang adalah pemimpin atas dirinya, dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Jadi, jangan dulu memikirkan bahwa pemimpin itu membawa banyak orang di bawahnya, seperti presiden, gubernur, dan lainnya. Namun ternyata setiap kita adalah pemimpin bagi diri kita masing-masing. Jadilah pemimpin yang adil, yang selalu membawa diri ini kepada kebaikan. Itulah pemimpin yang adil, membawa yang dipimpinnya untuk selalu berbuat kebaikan, menghindarkan dari hal-hal yang membawa keburukan. Seperti beribadah yang taat, menghadiri majelis-majelis ilmu, berbuat baik kepada setiap orang terutama kepada orang-orang terdekat-orang tua, keluarga, sahabat-, dan lain sebagainya. Itulah pemimpin yang adil. Dan pemuda yang mengerti pasti bisa menjadi pemimpin yang adil.

2. Pemuda yang taat ibadah hanya kepada Allah swt.
Saudaraku yang diberkahi Allah, sungguh beruntung bagi orang-orang yang senantiasa untuk taat beribadah kepada Allah swt. Terutama kita, sebagai pemuda. Sungguh Allah akan memberikan banyak pahala kepada pemuda yang taat beribadah kepada-Nya, dibanding orang tua yang taat. Wajar saja, karena ujian (godaan)-nya lebih banyak dan dahsyat kepada pemuda. Seperti jaman sekarang, banyak sekali pemuda yang terlalaikan oleh teknologi, sinetron televisi, dan lainnya. Saat ini, pagelaran piala dunia di Afrika telah membuat pemuda lalai untuk shalat Maghrib dan ‘Isya, apalagi jadwalnya yang pukul 01.30 waktu Indonesia barat, sebagian telah alai untuk menunaikan qiyamul lail. Padahal waktu-waktu qiyamul lail adalah kesempatan kita untuk berkhalwat dengan Allah swt. Waktunya Allah mendengarkan doa-doa kita lebih dekat, karena waktu itu, Allah turun ke langit bumi-jarak terdekat antara langit dan bumi-.. semoga kita terus berusaha untuk meningkatkan ketaatan ibadah kita kepada Allah swt. Terlebih, sebentar lagi kita akan memasuki bulan penambangan pahala, bulan Ramadhan 1431 H. semoga Allah RIDHO menyampaikan kita kepadanya.

3. Pemuda yang terpaut hatinya kepada Masjid-masjid
Saudaraku yang mudah-mudahan selalu mendapat RIDHO Allah swt. Lagi-lagi Allah memberikan hadiah istimewanya itu untuk pemuda. Sungguh Allah memberikan nikmat yang banyak kepada para pemuda yang patut kita syukuri. Saudara pembaca, Allah akan memberikan Naungan-Nya di saat tidak ada lagi naungan kecuali dari-Nya kepada pemuda yang hatinya terpaut pada masjid. Dimana pun ia berada, sedang apapun ia beraktivitas, namun saat terdengar panggilan Allah swt.-adzan-, maka ia akan segera memenuhi panggilan tersebut. Tidak hanya untuk menunaikan shalat fardhu saja, namun juga untuk memakmurkan masjid-masjid Allah dengan mendawamkan tilawah Al-Qur’an, mengkaji hadits, kaji tafsir, mengajarkan pelajaran bermanfaat-terutama ilmu Islam- dan lain sebagainya. Dalam haditsnya, tertulis masaajida, yang artinya masjid-masjid (jamak), jadi kita tidak hanya saja memakmurkan masjid yang ada di sekitar rumah kita, namun terlebih kita harus berusaha memakmurkan masjid dimana pun kita berada. Baik sedang di perjalanan, atau sedang ada di luar kota tempat kita tinggal. Saudara pembaca, selamat memakmurkan masjid. Selamat menikmati jamuan Allah swt.

4. Pemuda yang bersedekah secara bersembunyi-sembunyi
Saudara pembaca, Rasulullah saw. adalah teladan kita semua, beliau juga adalah orang yang paling dermawan. Terlebih di bulan Ramadhan, kebaikan sedekahnya lebih cepat dibanding angina yang berhembus. Kita juga sepatutnya dapat mendermakan sedekah kepada yang membutuhkannya. Dan sedekah yang utama adalah sedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga (ibaratnya) tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Ini menggambarkan tentang makna keikhlasan hati orang yang bersedekah. Sesungguhnya tidak ramai orang yang dapat menyembunyikan kebaikan yang dilakukannya melainkan akan terdapat juga perasaan riya’ dan ingin menunjuk-nunjuk supaya mendapatkan pujian atau sanjungan dari orang ramai atau sekurang-kurangnya ada orang yang mengetahui kebaikan yang dilakukannya itu. Sesungguhnya, sikap tersembunyi-sembunyi akan menimbulkan keikhlasan dan menjauhkan sifat riya’, insya Allah..

5. Dua pemuda yang bertemu dan berpisah karena Allah
Weish, tunggu dulu…ini buka antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya, namun saudara se-iman. Sesame ikhwan, atau sesama akhwat. Inilah yang menjadi usaha bagi yang sudah mempunyai kelompok rutin pekanan. Ia bertemu untuk merekatkan ukhuwah, bersama-sama berniat karena Allah untuk mencari ilmu, saling mengingatkan dalam kebaikan, ketaatan dan lainnya. Ia berpisah karena Allah untuk menyebar kebaikan kepada orang lain yang lebih banyak. Bersyukurlah, wahai saudara pembaca yang sudah mempunyai kelompok pertemuan. Allah akan memberikan pahala yang besar bagi orang-orang yang berkasih saying dan saling mengingatkan kepada kebaikan dan kesabaran. Betapa Allah memberikan pahala kepada dua orang yang bertemu dan berpisah karena-Nya, apalagi lebih dari dua orang. Perbanyaklah saudara kita.

6. Pemuda yang menolak rayuan wanita untuk berzina
Saudaraku, sungguh Allah Maha Tahu, ujian demi ujian yang kita lalui pastilah Allah akan memberikan imbalan yang setimpal jika kita dapat melalui ujian tersebut dengan baik dan benar menurut Allah swt. Dikisahkan seorang pedagang karpet pada jaman Rasulullah, yang juga sahabat beliau. Ia menjual karpetnya secara keliling. Karena saking ramah dan baik dan tampannya pedagang tersebut, maka hampir setiap hari ia dapat menjual karpet-karpetnya. Suatu hari di suatu daerah, karpet dagangannya belum ada yang membeli. Beberapa saat kemudian ada seorang gadis cantik yang menghampirinya. Ia berpura-pura akan membeli karpetnya jika pedagang ini ikut ke rumahnya. Maka, ia pun mengikuti karena tidak tahu niat jahat perempuan ini. Setelah mereka tiba di rumah, sang perempuan tersebut berbicara kepada pemuda tampan itu untuk berzina dengannya. Secara spontan, lelaki itu kaget dan menolak ajakannya. Beberapa saat kemudian ia mempunyai ide. Ia meminta izin ke kamar mandi. Secara tiba-tiba, si perempuan itu kaget melihat sang pemuda pedagang karpet itu sudah terlumuri kotorannya sendiri. Ya, sang pemuda melumuri badannya dengan kotorannya sendiri dengan tujuan supaya wanita tidak ingin berzina dengannya. Karena baunya, maka wanita itu pun mengusir pemuda penjual karpet itu. Sepanjang perjalanan pulang banyak yang mengganggapnya orang gila dan bau terhadapnya. Sang Pemuda bergegas mandi dan membersihkan dirinya dengan bersih. Saat sudah mandi dan berkemas untuk melanjutkan dagangnya, banyak sahabat lain dan orang-orang di sekitarnya mencium bau harum seperti parfum kasturi. Bahkan dari jarak yang jauh. Setelah Rasulullah mengetahuinya, beliau dan para sahabat menjulukinya sebagai Sang “Al-Misk”, yang harum seperti parfum surga. Dari peristiwa itu, sampai meninggalnya-bahkan sampai di surga, sahabat itu akan tetap harum kasturi.. (al-hadits). Itulah balasan dari Allah swt. Kepada orang-orang yang mampu menjaga diri dan kehormatan hidupnya.

7. Pemuda yang mencucurkan air mata saat shalat malam.
Saudara pembaca, ada lagi satu peristiwa yang cukup menggugah kita, yang patut ditafakuri oleh semua. Cerita ini pula yang menjadi sebab turunnya (asbabul nuzul) Qur’an Surat Ali Imran ayat 190-191. Pada suatu subuh, Bilal bin Ra’bah memanggil Rasulullah saw. Karena pada Subuh tersebut tidak seperti biasanya, Rasulullah belum dating-datang untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Setelah Bilal menghampiri, ia mendapati Rasulullah sedang menangis tersedu-sedu. Rasulullah saw. Bercerita kepada Bilal bahwa ia baru menerima wahyu dari Allah swt. Melalui Malaikat Jibril. “Inna Fii Kholqissamaawaatii wal ardh, wakhtilaa fillaili wan nahaari la aayatilliuulil albaab”; Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam pada malam terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Saat itu Bilal bertanya, bukankah engkau sudah berakal Yaa Rasulullah?? Lalu Rasulullah saw menjawab: “memang Allah memberiku kelebihan dan akal yang dapat menerjemahkan ayat ini, tapi bagaimana dengan umatku??” lalu Bilal pun hanya terdiam dan ikut menitikkan air matanya.
Saudara pembaca yang mulia dan saya banggakan, Allah menyediakan waktu-waktu yang mustajabnya do’a, saat itulah semestinya kita dapat berkomunikasi langsung denganNya melalui dzikir-dzikir dan do’a-do’a kita. Sungguh Allah akan mengabulkan doa-doa itu. Saudara pembaca, berdo’alah kepadaNya, memohon apa yang kita minta. Salah satu waktu mustajab itu adalah dengan qiyamullail, karena waktu itu Allah akan turun ke bumi, menjadi saksi bahwa hambaNya mendekatkan diri kepadaNya di saat yang lain sedang terlelap tidur.
Ingatlah, ada dua tetesan yang haram tersentuh neraka. Tetesan air mata karena tangisan kepada Allah saat shalat malam dan tetesan darah syuhada yang berjihad di jalan Allah…
Itulah saudara pembaca, tujuh hal yang menjadikan kita mendapatkan hadiah, kado special dari Allah swt. Semoga kita dapat menjadi salah satu golongan di atas, menjadi hamba Allah yang mendapat naunganNya di saat tidak ada lagi naungan Allah kepada siapa pun. Perbanyaklah ketaatan (ibadah) kita kepada Allah.
Saudara pembaca, berbaiksangkalah kepada Allah swt.

Presiden PKS Kampanye di Cianjur

Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menyampaikan orasi politik di depan massa pendukung pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Cianjur Dadang Sufianto-RK Dadan dalam kampanye di Lapangan Parwatasari, Joglo, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (6/1). Luthfi meminta seluruh kader PKS untuk memenangkan pasangan nomor urut 2 itu dalam Pilkada Kabupaten Cianjur 10 Januari mendatang.
Sumber : pk-sejahtera.org

Tanggap Darurat Mentawai Diperpanjang

PADANG -  Setelah gempa dan tsunami menerjang Mentawai Sumatera Barat, masa tanggap darurat sudah beberapa kali diperpanjang. Tapi karena penanganan korban belum tuntas, akhirnya kembali diperpanjang sampai 31 Desember 2011. Menurut Irwan, masa tanggap darurat akan dicabut kalau seluruh penanganan bencana sudah selesai.  “Pada 2011 masa tanggap darurat kembali diperpanjang, ini atas permintaan Bupati Mentawai Edison Saleleubaja,” kata Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Kamis (6/1/2011) di Padang.

Kepala Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mentawai Paulinus Sabeleake, membenarkan perpanjangan masa tanggap darurat, namun belum tahu sampai kapan.

“Bapak bupati memang memberikan sinyal itu saat rapat di Tuapeijat, kata beliau, saat rapat di Tuapeijat beliau akan memperanjang dan itu akan di sampaikan pada gubernur,” katanya.

Lanjut Paulinus, perpanjangan masa tanggap darurat ini dilakukan karena belum selesainya pembangunan hunian sementara di Kepulauan Pagai Utara maupun di Pagai Selatan.  Kemudian masih banyak bantuan di Gudang Teluk Bayur yang belum di distribusikan kepada korban tsunami di Mentawai.
Bangun Hunian dan Rumah Ibadah
Lebih lanjut Irwan menjelaskan, pemerintah sudah membuat tiga titik hunian sementara. Di wilayah Pagai Utara sudah 233 rumah yang hampir jadi, wilayah Pagai Selatan sudah dibangun sebanyak 516 unit, namun sempat mengalami sedikit kendala terkait bahan baku kayu, serta sudah melakukan pembebasan lahan HPH dengan ukuran empat kubik per rumah.
Sedangkan di wilayah Spora Selatan sudah berjalan pembangunan rumah, yang dimaksudkan untuk antisipasi bagi korban bencana, yang belum mendapat hunian.

Selain Hunian, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga mengalokasikan dana Rp27,3 miliar untuk bantuan perbaikan tempat-tempat ibadah yang rusak akibat gempa pada 2009.
“Tempat ibadah yang dibantu itu meliputi masjid, mushola, surau, gereja, vihara dan kelenteng di 14 kabupaten dan kota,” kata Irwan Prayitno. Ia memberikan rincian tempat ibadah yang dibantu terdiri dari 1.563 unit masjid, 2.153 unit mushalla/surau/langgar, 91 unit gereja, vihara dan klenteng.

Tempat ibadah itu mengalami kerusakan berat, sedang dan ringan akibat guncangan gempa 7,9 SR yang melanda sejumlah wilayah di Sumbar pada 30 September 2009.

Jumlah bantuan yang dikucurkan meliputi, Rp10 juta untuk masing-masing setiap masjid, gereja, vihara dan kelenteng, sedangkan setiap mushalla, surau dan langgar masing-masing Rp5 juta.

Jika ditotal maka bantuan untuk 1.563 unit masjid mencapai Rp15,63 miliar, untuk 2.153 unit mushalla, langgar dan surau total bantuan Rp10,76 miliar dan untuk 91 unit gereja, vihara dan klenteng dialokasikan total Rp910 juta.

Irwan mengatakan, bantuan yang diberikan memang tidak disesuaikan dengan kategori kerusakan bangunan.

Hal itu ditempuh Pemprov Sumbar, karena kalau didasarkan kategori kerusakan bangunan, maka butuh waktu lama untuk verifikasi tingkat kerusakan tempat-tempat ibadah tersebut.
Kalau diverifikasi maka dalam enam bulan ke depan belum tentu bantuan ini dapat dicairkan, karena harus dilakukan pendataan di lapangan dan juga membutuhkan biaya operasional cukup besar, tambahnya. (berbagai sumber)

Suswono: Lonjakan Harga Cabai Tak Terduga

JAKARTA (Bisnis) - Menteri Pertanian Suswono menilai terjadinya kenaikan harga cabai yang sudah menyentuh level Rp80.000 per kg merupakan lonjakan yang tak terduga di awal tahun ini, menyusul terganggunya produksi akibat cuaca yang tidak mendukung.
  Suswono mengharapkan  tahun ini iklim akan kembali normal, tidak seperti 2010 yang mengalami musim hujan sepanjang tahun.

“Ini pelajaran dari 2010 yang tidak terduga dengan musim yang hanya satu ini, yaitu musim hujan sepanjang tahun. Mudah-mudahan pada 2011 ini iklim normal,” kata Suswono menjawab pertanyaan wartawan di Istana Presiden, hari ini.

Meski kenaikan harga cabai bisa menguntungkan petani, menurut dia, pemerintah juga harus  mengupayakan agar masyarakat konsumen tidak diberatkan dengan harga yang terlalu tinggi.

Suswono mengatakan curah hujan sepanjang tahun lalu mengakibatkan terjadinya penurunan produksi sekitar 30%.

Selain itu, lanjutnya, kegagalan panen menimbulkan trauma bagi petani, karena butuh investasi cukup besar untuk menanam cabai, yaitu sekitar Rp60 juta per ha.

“Tapi Januari ini sudah mulai banyak yang akan panen. Mudah-mudahanan akan memperkuat supply,” katanya.

Di samping itu, Kementerian Pertanian akan melakukan gerakan menanam cabai di pekarangan rumah dengan membagikan benihnya secara gratis. Gerakan tersebut merupaka langkah jangka pendek yang akan dilakukan selama 3 bulan.

“Ini jadi momentum bahwa cabai sebenarnya mudah ditanam di pekarangan yang sempit, bahkan di Jakarta pun bisa dilakukan dengan cara hortikultura,” katanya.

Dia mengatakan Ditjen Hortikultura tengah menyusun langkah yang akan dilakukan untuk menggerakkan penanaman cabai di pekarangan, yang dimulai setidaknya pada 100.000 keluarga.

Soal upaya menekan harga, Suswono mengharapkan masyarakat sedikit mengerem konsumsi cabai.

“[Mengerem makan cabai] 2-3 hari itu [harga] langsung turun karena cabe itu mudah rusak, mudah busuk,” katanya.

Sumber : pk-sejahtera.org

Stabilkan Harga, Heryawan Siapkan Rp 40 Miliar

Bandung – Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan meminta jajaran Pemprov berusaha keras stabilkan harga-harga kebutuhan pokok yang cenderung naik pada waktu-waktu tertentu. Untuk keperluan stabilisasi harga, pemerintah Jawa Barat menyiapkan anggaran Rp 40 miliar untuk Operasi Pasar Murah (OPM) tahun ini. 

”OPM difokuskan untuk 3 komoditas yaitu beras, gula kristal putih atau gula pasir, serta minyak goreng,” kata politisi PKS itu saat dihubungi di Bandung, Jumat (7/1).
Menurutnya, kebijakan OPM akan dilakukan jika di antara 3 komoditas itu mengalami kenaikan harga sampai 20 persen dari harga normalnya. Anggaran yang berasal dari APBD Jawa Barat itu disediakan untuk menutupi selisih harga itu, agar komoditas itu bisa dijual di harga normal.

Kebijakan tersebut, lanjut Heryawan didasarkan pada hasil evaluasi soal inflasi di Jawa Barat, dimana produk pangan merupakan penyumbang terbesar inflasi sepanjang 2010 lalu. ”terutama melonjaknya beras,” kata Heryawan.

Pada 2010, inflasi year on year di Jawa Barat tercatat menembus 6,62 persen. Angka itu, menurutnya, lebih rendah dari angka inflasi nasional. Inflasi di Jawa Barat juga lebih rendah dibandingkan jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi lebih besar dibandingkan dengan inflasi yang tercatat di Banten dan DKI Jakarta.

Tahun ini Jawa Barat menargetkan angka inflasinya bisa ditekan di angka antara 4 persen sampai 6 persen. Sejumlah strategi disiapkan untuk menekan laju inflasi itu. Strategi yang disiapkan, di antaranya, perbaikan irigasi untuk memperluas areal lahan tanam padi, dan percepatan penyaluran beras miskin.

Terkait produksi padi, dibawah kepemimpinan Heryawan, produksi padi Jabar terus meningkat. Tahun produksi gabah kering giling (GKG) Jabar mencapai 11,32 juta ton atau naik 11,98 persen dari produksi tahun lalu yang hanya 10,08 juta ton GKG. Secara keseluruhan, produksi beras jabar berkontribusi sebesar 18,9 persen dari produksi beras nasional.

Sumber : pk-sejahtera.org

Yang Mendahului Kita

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Innalillahi wa inna ilaihi ro ji'un
Telah berpulang ke rahmatulloh saudara seperjuangan kita 

Akhina Indra Kusnandar 

kader PKS Semper Barat RW 04.
Kami segenap keluarga besar PKS Semper Barat turut berduka cita dan berdoa 
Semoga Alloh SWT menerima amal ibadah dan amal perjuangan beliau dan semoga Alloh melapangkan taman-taman syurga-NYA untuknya.
Serta Alloh ampuni segala dosa dan kesalahan beliau.Amin

Kami yang berduka,
Ketua DPRa dan Segenap Kader PKS Semper Barat
Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Kamis, 06 Januari 2011

7 nasehat tentang kePemimpinan

1. Jangan menginginkannya
Bukhari Muslim meriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata: Rasulullah pernah bersabda kepadaku: ”Wahai Abdullah bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan, sebab jika engkau memangku jabatan tanpa memintanya terlebih dahulu, engkau akan diberi pertolongan dalam mengembannya, sedang jika engkau memangku jabatan dan sebelumnya engkau memang memintanya, engkau akan terbebani dalam mengembannya. Jika engkau sudah bersumpah untuk melakukan/meninggalkan sesuatu, namun engkau  lalu melihat ada sesuatu lain yang lebih baik, maka ambillah yang lebih baik itu dan tebuslah sumpahmu yang dulu.

2.  Satu dari tujuh golongan ”Spesial”
Hadist Riwayat Bukhari Muslim : ”Ada 7 golongan yang dinaungi rahmat Alloh di dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya”, dari 7 golongan tersebut salah satunya adalah : PEMIMPIN YANG ADIL

3. Salah satu dari beberapa tanda orang beriman
Dalam Q.S. Al-Mukminuun (23) : 1 – 11, disebutkan beberapa tanda orang-orang yang beriman, dan salah satu tanda tersebut adalah (pada ayat : ”dan Orang-orang  yang MEMELIHARA AMANAT-AMANAT (yang dipikulnya) dan janjinya” 

4. ”Tantangan” untuk Menjaga Keikhlasan
Hadist Riwayat Muslim : Yang pertama kali dibakar api neraka pada hari kiamat adalah 3 golongan, yaitu :
1)      Orang Alim yang banyak Ilmunya
- orang yang mencari ilmu serta menyebarkannya bukan karena mencari ridho Alloh, tapi supaya dikatakan sebagai Orang Alim.
2)      Dermawan yang banyak derma (pemberian) nya
- orang yang mencari harta halal dan menginfaqkannya di jalan Alloh agar manusia menyebutnya dermawan.
3)      Mujahid yang gemar berjihad
- orang yang berperang di jalan Alloh dan mati terbunuh agar dikatakan orang lain sebagai pemberani. 

5. Meminimalisir kemunkaran
Hadist Riwayat Muslim : ”Jika kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan TANGANMU (kekuasaan yang dimiliki), jika tak mampu ubahlah dengan lisanmu, jika tak sanggup ubahlah dengan hatimu, dan itu adalah selemah-lemah Iman” 

6. Doanya makbul
Hadist Qudsi    : ”Tidak ada hijab/batas di antara Aku (Alloh) dengan doa ketiga golongan berikut”, salah satu dari 3 golongan tersebut adalah PEMIMPIN YANG ADIL 

7. Konsekuen & Koordinator
Q.S. Ash Shaff (61) : 2 – 4
(2) Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
(3) Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
(4) Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Artikel ini kami persembahkan untuk Ketua DPRa PKS Semper Barat Terpilih Ust. Abdul Rohim. Semoga Alloh membimbing langkah kerja kita dalam keridhoanNYA dalam kepemimpinan beliau. ALLOHU AKBAR...HARAPAN ITU MASIH ADA...
BEKERJA UNTUK SEMPER BARAT
UST. ABDUL ROHIM

Rabu, 05 Januari 2011

PKS Minta Tak Dicap Partai Koalisi Pembangkang

INILAH.COM, Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) minta kepada partai koalisi lainnya tidak menuduh PKS membangkang.

"Kalau mengingatkan sesuatu yang tidak beres masak kita dianggap nakal. Jangan lagi kami dianggap sebagai partai koalisi yang membangkang," ujar Ketua DPP PKS Jazuli Juwaini kepada INILAH.COM, Rabu (5/1/2011).

PKS menegaskan komitmen bersama koalisi SBY-Boediono ditegakkan. PKS akan mengingatkan pemerintah jika ada hal yang perlu diluruskan, termasuk soal dominasi Sekretariat Gabungan (Setgab) oleh partai tertentu.


"Tidak boleh dalam membangun bangsa ini ada dominasi segelintir-segelintir. Harus kerjasama. Republik ini membutuhkan kebersamaan dan kekompakan," ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, PKS bisa dibilang partai koalisi SBY-Boediono yang sulit 'dijinakkan'. Kadang-kadang, PKS tidak takut berseberangan dengan keinginan koalisi.

Terakhir, PKS tidak merasa 'nyaman' berada dalam Setgab, yang dianggap hanya didominasi partai koalisi tertentu. PKS menganggap dijadikan alat kepentingan Setgab.

Tidak terima dengan hal itu, PKS sempat mengusung ide poros tengah sebagai tandingan Setgab. Namun, gagasan poros tengah sepertinya sekadar gertakan.

ICT Fund, PR Kemkominfo di 2011

vivanews.com
VIVAnews - Di tahun 2011, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) diberikan anggaran sebesar Rp3,4 triliun, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yang senilai Rp2,8 triliun.
Lantas mau diapakan kocek sebesar Rp3,4 triliun itu? Tentu sebagian dipakai menyelesaikan pekerjaan rumah Kemenkominfo yang belum tuntas di tahun 2010: ICT fund.

Dalam acara penyerahan Pagu Definitif yang digelar 4 Januari 2011 lalu, dibahas juga mengenai beberapa hal yang menjadi capaian Kemkominfo yang harus segera dikirimkan kepada Ketua UKP4 (Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan).


Berdasarkan keterangan Plh Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo Gatot S Dewa Broto, seluruh kegiatan yang dimonitor, diawasi dan dievaluasi oleh UKP4 tersebut telah diringkas.

Salah satu di antaranya adalah penyusunan konsep ICT Fund untuk membiayai pembangunan jaringan backbone serat optik. Kegiatan ini diklaim telah selesai 90 persen.

"Indikatornya, perubahan tugas pokok dan fungsi BTIP (Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan) telah dilakukan dan disampaikan kepada Menteri Keuangan melalui surat Menkominfo tertanggal 30 November 2010 tentang perubahan nomenklatur dan perluasan BLU BTIP dalam rangka penerapan pengelolaan keuangan BLU," terang Gatot melalui keterangan resminya, Rabu 5 Januari 2011.

"Kini tinggal menunggu pembahasan tingkat tinggi antara Menteri Keuangan, Menteri Kominfo dan Menteri PPN//Kepala Bappenas," imbuhnya.
ICT Fund diusulkan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia sebagai lembaga pembiayaan bagi pengusaha kecil dan menengah di bidang telekomunikasi dan informatika (telematika).

Menurut Anindya Bakrie, Wakil Ketua Kadin Bidang Telekomunikasi, Teknologi Informasi, dan Penyiaran, dalam roadmap lima tahun ke depan sejak 2009, ICT Fund diharapkan rampung.

"Lembaga ini sangat diperlukan untuk membantu pengusaha UMKM di bidang telematika bisa berkembang. Pendanaan modal merupakan salah satu hambatan terbesar bagi pengusaha kecil. Biasanya perusahaan baru kaya akan ide namun miskin modal. Padahal mereka tidak bisa menjaminkan ide mereka kepada bank untuk memperoleh pinjaman modal," tutur Anindya setahun lebih silam.

Menurut Basuki Yusuf Iskandar, Sekretaris Jenderal Depkominfo, ICT Fund dikumpulkan untuk membangun jaringan broadband. “Seperti yang kita ketahui, kondisi backbone tanah air sekarang ini sangat menyedihkan,” katanya beberapa waktu lalu.

Secara ekonomi dan politik, Basuki menyebutkan, infrastruktur telekomunikasi di Indonesia belum terintegrasi secara domestik dan itu menjadi masalah yang cukup serius.

"The Power of Broadband akan benar-benar terwujud jika infrastrukturnya di Indonesia bagian Barat dan Timur terintegrasi," kata Basuki.

Menurutnya, untuk menyiasati hal itu, pembangunan backbone perlu dibiayai dari pungutan USO nantinya. "Saya kira ini tidak akan membebani industri telekomunikasi," ucap Basuki. "Kita hanya mengambil jatah satu persen dari total estimasi Rp1,2 triliun per tahun untuk backbone,"ujarnya.
• VIVAnews

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More